Jumat, 24 Maret 2017

Pengertian Ikhtilaf dalam Islam serta Macam-Macam Ikhtilaf

Jika anda mengikuti dinamika islam di Indonesia, anda pasti pernah mendengar kata ikhtilaf. Bagi para ulama, ikhtilaf adalah hal yang wajar dan pasti ada dalam Islam. Tapi jika anda belum mengetahui apa arti ikhtilaf, anda pasti bingung apa sih arti ikhtilaf? apakah wajar ada ikhtilaf dalam islam?
Oleh karena itu dalam artikel ini kami akan mencoba menjelaskan arti dari kata Ikhtilaf yang benar menurut pandangan islam.


Pengertian Ikhtilaf dalam Islam

Ikhtilaf artinya berbeda antara satu dengan lainnya, baik itu perbedaan dalam rupa, warna, bahasa, pikiran, pendapat, atau yang lainnya. Ikhtilaf terkadang juga diartikan berselisih.
Imam al Raghib mendefinisikan ikhtilaf sebagai berikut: "Ikhtilaf ialah seseorang mengambil jalan/cara berbeda dengan jalan yang lainnya baik dalam keadaannya atau perkataannya" (Al-Raghib, Hal: 157)

Dalil tentang Ikhtilaf

Didalam Al Quran Allah SWT Berfirman:
"...dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.." (Q.S. Ar Rum: 22)
"..dan perbedaan malam dan siang.."(Q.S. Al Baqarah: 164)
"Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat." (Q.S. Adz Dzariyat: 8)
"..Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya.." (Q.S. Al Baqarah: 2013)



Catatan Penting:
Ikhtilaf ini harus dibedakan dari tafarruq. Tafarruq artinya cerai-berai, silang selisih, atau bersimpangan jalan karena berbeda dasar sehingga membuat satu sama lain saling bermusuhan, bahkan terkadang mengkafirkan yang muslim. Masing-masing mempunyai kepentingan sendiri sehingga yang salah dipertahankan dengan berbagai dalih atau yang haq ditolak karena tidak cocok dengan hawa nafsu dan keinginannya.
Dalam hal ini Allah SWT telah mengingatkan kita dengan firman-Nya: "Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat". (Q.S. Ali Imran: 105)
Sebagaimana kita maklumi bahwa kandungan hukum Al Quran dan As Sunnah tidak semuanya qath'i (pasti), tetapi banyak diantaranya yang zhanni (belum pasti) sehingga menimbulkan penafsiran atau kesimpulan yang berbeda. Hal ini memang wajar, tetapi tidak berarti semua hasil ijtihad itu benar dan dapat ditolerir. Terkadang ada ijtihad yang menimbulkan kontroversi antara satu dengan lainnya. Seperti yang satu menetapkan halal, sementara yang lainnya menetapkan haram.

Macam-Macam Ikhtilaf 

A. Ikhtilaf Maqbul (Ikhtilaf yang masih bisa diterima)
Yaitu ikhtilaf yang masih bisa diterima keberadaannya, seperti yang satu menetapkan wajib, sementara yang lannya menetapkan sunnat. Tetapi pada dasarnya dua-duanya sama; harus diamalkan.
Contoh:
  • Bismillah dalam wudhu. Menurut hanabilah wajib, menurut yang lainnya sunnat.
  • Salam kedua di akhir shalat. Menurut Hanabilah wajib dan menurut yang lainnya sunnat.
  • baca shalawat kepada nabi pada tasyahud akhir. Menurut syafi'iyyah wajib dan menurut malikiyyah sunnat.
  • Mabit di Mina. Menurut syafi'iyyah wajib dan menurut hanafiyah sunnat.
  • Mandi jum'at. Menurut sebagian wajib dan menurut yang lainnya sunnat muakkadah.
B. Ikhtilaf Ghair Maqbul (Ikhtilaf yang tidak bisa diterima) / Ikhtilaf Tadhadhin (Bersifat berlawanan)
Yaitu ikhtilaf yang tidak bisa diterima. Ikhtilaf yang sifatnya kontradiktif antara satu dengan lainnya. Seperti A mengatakan haram, sementara B mengatakan halal. Atau yang satu menyatakan sunnah sementara yang lain menyatakan bid'ah.
Contoh:
  •  Talaffuzh bin-niyyat. Menurut syafi'iyyah sunnat, sedang menurut yang lainnya bid'ah.
  • Menjaharan bismillah. Menurut syafi'iyyah adalah masyru' (disyari'atkan), sementara menurut Abu Syaibah adalah bid'ah.
  • Berdo'a urusan-urusan dunia dalam tasyahud akhir. Menurut hanabilah membatalkan shalat, sementara menurut malikiyah tidak ada masalah.
Ikhtilaf seperti ini tentu saja harus dicari penyelesaian akhir karena tidak mungkin kedua-duanya diterima sebab antara satu dan lainnya bertolak belakang.

C. Ikhtilaf Tanawwu'
Yaitu ikhtilaf yang sifatnya tidak berlawanan tetapi menunjukan ada beberapa macam.
Contoh:
  • Takbir janazah di kalangan sahabat ada yang berpendapat empat kali takbir dan ada yang berpendapat lima kali takbir, bahkan ada yang berpendapat delapan kali takbir. Hali ini diakibatkan karena ada beberapa contoh dari nabi saw.
  • Praktek para sahabat dalam ibadah haji pada tanggal 10 Dzulhijjah, ada yang jumrah 'aqabah terlebih dahulu, ada yang bertahallul terlebih dahulu, ada yang thawaf ifadhah terlebih dahulu. Dan ketika ditanyakan kepada Rasul tentang mendahulukan dan mengakhirkan pekerjaan-pekerjaan itu yang mana yang harus diawal atau diakhirkan, beliau menjawab tidak apa-apa (H.R. Bukhari, Shahih al Bukhari, II: 615, IV:2454.
Perbedaan penafsiran ayat al quran sering juga dijumpai ikhtilaf Tanawwu ini, seperti tafsir as-shirathal-mustaqim. Ada yang menafsirkan dengan kitabullah, islam, ahlus sunnah wal jama'ah, dan ada juga yang mengartikan dengan thariqul-'ubudiyah (jalan pengabdian kepada Allah). Tafsir ini semuanya pada hakikatnya sama, hanya ungkapannya yang berbeda (lihat pula Majmu'atul Fatawa 13:205)

Sampai disini penjelasan tentang pengertian ikhtilaf dalam islam dan macam-macamnya. Semoga bermanfaat. Jika anda menemukan manfaat dalam artikel ini mohon untuk share di sosial media agar lebih banyak lagi yang mengetahuinya.
 Sumber: Majalah Risalah No. 11 Tahun. 54 Hal. 4
 Judul Asli: Fiqh Ikhtilaf
 Penulis: K.H Aceng Zakaria (Ketua Umum Persatuan Islam)
 
Read More

Kamis, 16 Maret 2017

STRATEGI DAKWAH UKHUWAH PEMUDA PERSIS KABUPATEN TASIKMALAYA

persisjamanis.com - Pergerakan pemuda dalam memastikan sebuah perubahan tak ubahnya menempatkan arti energi alam dalam proses kehidupan di muka bumi. Sangat fital dan artisial. "Pemuda adalah energi peradaban manusia."

Pemuda Persis memetik fenomonologi yang berkembang dalam setiap frekwensi dan gelombang dinamika keummatan. Pembacaan lokal, nasional dan internasional. Kacamata yang digunakan untuk memandangi setiap fruktuasinya selalu "Kepentingan dakwah qur'an sunnah."



Kembali demi mengembalikan peradaban Islam sebagaimana awalnya, ialah kemestian mengambil kata kunci seperti dipermulaannya. Bukankah kilasan sejarah Islam akan membuka kotak ajaib, yakni Qur'an sunnah sebagai kitab hidup yang dipedomaninya? Disini bisa diambil adagium umum, "kita tidak boleh melupakan sejarah."


Upaya mengawinkan sejarah dengan konteks peristiwa yang tengah berkelindan akan mengantarkan pandangan visioner ke depan secara, cermat dan akurat. "Pemuda Islam berkeharusan memastikan maqomnya sebagai analisator realitas dengan, sekali lagi, melinearisasi terhadap anasir sejarah keemasannya."

Demikian substansif diskursus soal tersebut, sehingga, keberadaan Pemuda Persis di tengah-tengah dinamika keummatan Islam Indonesia, yang memegang peranan utama selaku analisator, insiator dan sekaligus motor, adalah juga bukti yang kudu diwujudkan demi merespon di samping tentunya, amaliyah dari kajian ilmu. "Pemuda Persis adalah sekelompok pemuda yang peka dengan laju kembang zaman. Peka yang menyenandungkan gerakannya atas dasar semburan qur'an sunnah."

"Demikian adalah dasar yang melatari dakwah kami di Pemuda Persis Kabupaten Tasikmalaya." Ujar Ustadz Abdul Fatah, ketua PD. Pemuda Persis Kabupaten Tasikmalaya saat ditanya soal agenda kegiatan tabligh Akbar bersama, ketua GNPF MUI, ustadz Bahtiar Nasir (18/3). 

Ia juga memaparkan, peran Pemuda Persis secara nasional, dan khususnya lokal kabupaten Tasikmalaya sudah pada kepatutannya. Usaha menjaga kemurnian Islam dalam keberislaman ummat, melestarikan sikap peka dan kritis konstruktif, adalah dinamisasi dakwah yang dibangun secara kontinyu. "ini semua adalah karakter luhur yang melekat dalam diri kader pemuda persis," Jelasnya. 

Atas pembacaanya bakda mengkaji secara mendalam, dan dengan ditopang oleh seluruh sayap otonom Persis di kabupaten Tasikmalaya, digelar agenda Tablig Akbar dengan terma Merawat kekuatan ukhuwah ummat Islam dan menjaga keutuhan NKRI.

Pemuda Persis sudah harus bangun untuk mengingatkan ummat betapa telah lewatnya masa tertidur ummat Islam. Pemuda Persis secara serentak dan simultan harus bergerak bersama mengumandangkan suara tajdid dalam arti sejati. Sebab, di era postmodernisme yang sangat liar dan liberal seperti sekarang, supaya tidak lagi keterlaluan jauhnya tertinggal di alam bawah sadar pergerakan, sesegera mungkin, dalam tempo sesingkat-singkatnya, Pemuda Persis harus segera mewujud ubahnya suatu gerakan sistemik dengan embanan cita-cita luhurnya. 

Semangat maha baik tersebut diserap diantaranya oleh keluarga besar Persatuan Islam (Persis) Kabupaten Tasikmalaya dengan penggagasnya dari sayap kepemudaan, yaitu PD. Pemuda Persis. Lebih dari 10.000 massa akan dihadirkan dalam agenda tersebut. Massa terdiri dari seluruh elemen masyarakat, DKM, Ormas Islam beserta tokoh-tokoh pemerintahan setempat. 

Pada kesempatan sebelumnya, mereka juga menghadirkan waketum PP. Persis dalam TA dengan melibatkan undangan berbagai ormas. 

Bertempat di Halaman Masjid Persis Panyusuhan-Pakemitan kidul-Ciawi-Kab. Tasikmalaya, agenda yang akan digelar 2 hari lagi tersebut telah mengundang animo dan apresiasi banyak kalangan. 

Bagi warga jam'iyyah Persis secara khusus, mereka menyatakan telah siap mengerahkan semua massa yang berdekatan dengan lokasi. Diantaranya Persis Kota Tasikmalaya dan Ciamis, Banjar serta Pangandaran. 

Sebagaimana direncanakan, acara akan dimulai pada pukul 8 pagi sampai dhuhur. Selain orasi perwakilan ormas serta acara penyerta untuk mendinamisasi massa, sebagai pembuka akan disampaikan langsung oleh Waketum PP. Persis, Dr. H Jeje Zaenudin, M. Ag. 

Pemilihan timsus pemandu acara pun secara serius mengambil dari perwakilan PD. Himpunan Mahasiswa (Hima) Persis Tasikmalaya raya. Nanang Indrawan, ketua Hima Persis Tasikmalaya raya sebagai MC dinamisator massa. 

Dalam berbagai diskusi, berulang kali diungkapkan para panitia bahwa, hajat tersebut bukan sesuatu yang satu-satunya penting digelar. Pemuda Persis berlindung dari reaksioner tanpa ilmu. Gelaran TA Semata-mata adalah demi dakwah yang sifatnya responsif serta akuratif dengan objek rangkulannya yang melibatkan semua elemen.

Sementara MC Formal diamanahkan kepada saudara Andri Nurkamal yang merupakan Kabid Kaderisasi PP. Hima Persis. Ke depan, pasca TA K.H. Bahtiar Nasir, mereka berencana menindak lanjuti dengan gerakan dan konsolidasi gerakan keummatan. 

Kehadiran Pemuda Persis yang sudah lebih dari 30 tahun di Tasikmalaya tersebut ibarat angin segar di belantika pergerakan Islam kota santri. Bahkan tidak hanya di kota santri, semangat tersebut dipastikan merambah gugahannya ke berbagai kota yang ada di Priangan Timur secara khusus. (Z3

"Keluarga besar Persis kabupaten Tasikmalaya, setelah menemukan adanya kegelisahan yang sama diantara para aktivis dakwah dan ormas-ormas Islam, tentang urgensitas mewujudkan ukhuwah diantara sesama ummat Islam, serta usaha sistematis dan strategis demi terciptanya stabilitas berkehidupan sebagai warga Tasikmalaya (secara khusus), maka dialog terbuka lintas ormas Islam akan menjadi prioritas bersama yang akan dilestarikan secara berkala." Papar sekum PD. Persis kabupaten Tasikmalaya, Ustadz Dede Reviana Ibrahim. 

Oleh: Andanu 
Ditulis di Markas Panitia UBN, 16 Maret 2017

Read More

Selasa, 21 Februari 2017

RUANG LINGKUP JIHAD PEMUDA PERSATUAN ISLAM (Pemuda Persis)

RUANG LINGKUP JIHAD ( PEMUDA PERSIS)




Misi Da’wahnya Pemuda Persatuan Islam (Pemuda Persis), memiliki rumusan dalam bentuk ruang lingkup jihad yang termaktub dalam : Pasal 7, tentang Ruang Lingkup Jihad : 
  1. Menggali potensi kader yang tersebar di lembaga pendidikan Persis dan basis-basis calon kader lainnya. 
  2. Membina kader untuk menjadi hamba Allah yang mengamalkan syari’ah Islam dan menjadi uswatun hasanah bag keluarga dan masyarakat. 
  3. Membina kader untuk menjadi mujahid[1], mujtahid[2], mujaddid[3], ashabun[4] dan hawariyyun [5] Islam. Memberdayakan kader dalam berbagai bidang sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masng untuk memajukan da’wah Islam. 
  4. Mengembangkan potensi kader dalam bidang keilmuan, kepemimpinan, kewirausahaan dan bidang lain yang relevan.

 ( Sumber : Buku Qaidah Asasi dan Qaidah Dakhili / QA-QD Pemuda Persis, hal.3-4 )

 Keterangan :_________________________________________________________________ 
[1] Mujahid adalah orang yang mengikhlaskan diri untuk memahami / mempelajari, mengamalkan dan menda’wahkan Islam dengan istiqomah dan siap menjadi penolong sekaligus pembela dalam mempertahankan agamanya.
[2] Mujtahid yang dimaksud dalam konteks ini adalah orang yang selalu mencurahkan pikiran-pikirannya sekemampuannya untuk mencari pemecahan terhadap berbagai masalah yang dihadapinya dengan tetap berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah sebaga landasan pokoknya disertai dengan kemampuan ilmiah yang dimilikinya. 
[3] Mujaddid adalah pembaharu yang maknanya seperti dijelaskan pada tafsir Pasal 3 ayat 2. 
[4] Ashabun adalah Sahabat yang menyertai dan mengikuti seseorang dalam suka dan duka. 
[5] Hawariyyun adalah orang yang mengikhlaskan diri untuk melakukan pembelaan dan memberikan pertolongan tanpa diminta serta siap kapan dan di mana pun juga. Jadi yang dimaksud mednjadi Ashabun dan hawariyyun Islam berarti harus memiliki keterikatan tinggi terhadap syari’at Islam serta senantiasa membelanya dari segala bentuk gangguan dan penyimpangan terhadapnya.
Read More

Rabu, 01 Februari 2017

Sejarah Pemuda Persatuan Islam

Logo Pemuda Persatuan IslamPerjuangan yang tidak melibatkan generasi muda adalah mandul. Sedang pemuda yang tidak terlibat dalam perjuangan adalah generasi pemutus garis sejarah. Perjuangan dakwah menyeru manusia kepada jalan Allah adalah perjuangan sepanjang sejarah. Keterputusan kaderisasi akan berakibat keterputusan perjuangan dakwah.

Kesadaran ini memotivasi para ulama Islam dalam organisasi Persatuan Islam (Persis) yang berpusat di Bandung untuk mengkader para pemuda Islam potensial pada zaman itu menjadi pejuang dakwah. Mereka harus mengajak kaum muslimin kembali kepada kemurnian al-Qur`an dan al-Sunnah.
Tuan A. Hassan, sebagai guru Persatuan Islam, telah berjasa menanamkan ruh perjuangan dan pemurnian Islam pada generasi muda waktu itu. Mereka adalah Mohammad Natsir, Fakhruddin al-Kahiri, E. Abdurrahman, O. Qomaruddin, dan Abdul Qadir Hassan.
Semangat pembelaan terhadap Islam dari hinaan kaum penjajah-kristen mendorong Natsir dan kawan-kawan mendirikan Komite Pembela Islam di bawah bimbingan A. Hassan dan dalam naungan Persatuan Islam secara kelembagaan.
Memperhatikan perkembanagn, perlu adanya wadah khusus pembinaan dan pembibitan para aktivis dakwah. Atas gagasan Fakhruddin al-Kahiri dan Kemas Ahmad, para pemuda tersebut mengadakan rapat pembentukan wadah pergerakan pemuda di bawah Persis. Maka secara resmi berdirilah Pemuda Persatuan Islam pada tanggal 22 Maret 1936 di Bandung sebagai organisasi otonom dari Persis.
Kepemimpinan pertama adalah masa Djoedjoe Danuwikarta, Rusyad Nurdin, dan Eman Syar’an (th. 1936-1942). Selanjutnya oleh A. Latif Mukhtar hingga 1956. Yahya Wardi melanjutkan sampai tahun 1962. Hingga tahun 1967 dipimpin oleh Suraedi. Empat tahun kemudian, tahun 1967 – 1981, dipimpin oleh Yaman AS. Kemudian dilanjutkan oleh Ikin Sodikin sampai tahun 1990. Pada kepemimpinan tahun 1990 – 1995, Pemuda Persis dipegang oleh E. Muchtar ZA. Lima tahun kemudian dipimpin oleh Atif Latiful Hayat. Tahun 2000, jabatan ketua dipegang oleh Uus Muhammad Ruhiyat. Selanjutnya, Muktamar di Pondok Gede Bekasi mengamanatkan kepemimpian kepada Jeje Jaenudin Amsari hingga 2010. Kini, berdasarkan Muktamar 2010 di Rajapolah Tasikmalaya, Pemuda Persis diamanahkan kepada Tiar Anwar Bachtiar hingga 2015 dan Sekarang Pemuda Persis Diamanahkan Kepada Ust Eka Permana Habibillah. 
Sumber : https://pemudapersisjabar.wordpress.com/.

Read More

MARS PEMUDA PERSATUAN ISLAM

MARS PEMUDA PERSATUAN ISLAM

Karya: Ustadz Suraedi


Kami pemuda pembela agama
Pembangkit umat yang utama
Bertabligh memikat hati yang suci
Berdalilkan Qur’an dan Hadis
Di-tanam iman disebar amal
Memimpin jiwa dan akhlaqnya
Membasmi bid’ah agama
Berjihad, berdakwah, beruswah)*
Reff:
Bersatulah bersatulah bersatulah bersatulah
Hai muslimin
Siapa yang menentang Islam
Musnahlah dalil dan hujahnya
)* Naskah asli:
Bergembar, bergembor, berkhutbah
Read More

Selasa, 31 Januari 2017

Sejarah Persatuan Islam (Persis)

Tampilnya jam’iyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid’ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan “reformasi” Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi masyarakat Islam Indinesia untuk melakukan pembaharuan Islam.

Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, dan kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan cirri dan karateristik yang khas.

Pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis). Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat 103 : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang (aturan) Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai”. Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, “Kekuatan Allah itu bersama al-jama’ah”.
Tujuan dan Aktifitas Persis
Pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Untuk mencapai tujuan jam’iyyah, Persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan yang dimulai dengan mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936. dari pesantren Persis ini kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (Taman kanak-kanak) hingga perguruan tinggi. Kemudian menerbitkan berbagai buku, kitab-kitab, dan majalah antara lain majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa, (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), Majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah berbahasa Sunda (Iber), serta berbagai majalah yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Selain pendidikan dan penerbitan, kegiatan rutin adalah menyelenggarakan pengajian dan diskusi yang banyak digelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif Pimpinan Pusat Persis maupun permintaan dari cabang-cabang Persis, undangan-undangan dari organisasi Islam lainnya, serta masyarakat luas.
Kepemimpinan Persatuan Islam
Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).
Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.
Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.
Persatuan Islam Masa Kini
Pada masa kini Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis. Gerak perjuangan Persis tidak terbatas pada persoalan persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan-persoalan strategis yang dibutuhkan oleh umat Islam terutama pada urusan muamalah dan peningkatan pengkajian pemikiran keislaman.  
Sumber : http://persis.or.id/
Read More